Tanah Papua
memang menyimpan banyak misteri. Pulau yang terletak di ujung paling timur
Indonesia ini seolah-olah tidak berhenti memancarkan daya magis yang membuat
orang penasaran untuk menelusurinya. Berbagai macam ritual adat
yang masih diterapkan oleh suku-suku lokal di sana sepertinya masih menyisakan
nuansa klenik namun menarik. Begitu pula dengan benda-benda peninggalan dari
masa pra sejarah, salah satunya seperti yang terdapat di Distrik Kokas,
Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua
Barat, Indonesia. Kabupaten Fak-Fak
sendiri merupakan salah satu pusat agama Islam di Papua Barat di mana sebagian
besar masyarakatnya sudah memeluk agama Islam. Di kabupaten yang memiliki luas
38.474 km² dan berpenduduk sebanyak 50.584 jiwa (data tahun 2000) ini berdiri
sebuah masjid tua di Kampung Patimburak, yang sudah berusia lebih dari 200
tahun.
Keindahan Alam Fak-Fak
Kokas ibarat monumen hidup yang tetap eksis sepanjang waktu. Wilayah ini
merekam dan menyimpan banyak peninggalan masa silam zaman pra sejarah Nusantara. Salah satu pesona
magis yang menjadi daya tarik Kokas adalah ditemukannya berbagai cap tangan
berwarna merah yang terlukis pada dinding-dinding batu di tebing dan gua yang
terletak di pinggir laut. Obyek wisata arkeologi ini dikenal sebagai situs
purbakala Kokas atau oleh masyarakat setempat biasa disebut dengan nama
Tapurarang. Karena warna merah pada lukisan cap tangan di tebing tersebut
menyerupai warna darah manusia, masyarakat setempat juga sering menyebut
Tapurarang sebagai lukisan cap tangan darah. Cap-cap tangan yang ditemukan di
Kokas memiliki kemiripan dengan beberapa lukisan dinding seperti yang terdapat
di Sangkulirang (Kutai Timur, Kalimantan Timur)
atau di Gua Leangleang
(Maros, Sulawesi Selatan). Di Distrik Kokas, Tapurarang yang merupakan kekayaan
peninggalan zaman pra sejarah ini bisa dijumpai di beberapa tempat antara lain
di Andamata, Fior, Forir, Darembang, dan Goras.
Terdapat mitos yang berkembang dan dipercaya masyarakat setempat mengenai
asal-usul keberadaan lukisan dengan cap tangan berwarna merah darah di situs
purbakala Tapurarang tersebut. Warga adat yang tinggal di Kokas meyakini bahwa
tebing atau gua yang menjadi lokasi ditemukannya Situs Purbakala Tapurarang
adalah tempat yang disakralkan. Mereka percaya lukisan-lukisan berwarna merah
darah tersebut merupakan wujud orang-orang yang dikutuk oleh arwah seorang
nenek. Nenek tersebut telah menjelma menjadi setan kaborbor atau hantu
penguasa lautan, yaitu hantu yang paling menakutkan. Si nenek meninggal saat
terjadi musibah yang menenggelamkan perahu yang ia tumpangi. Dari seluruh
penumpang di perahu itu, hanya si nenek yang tewas. Konon, tidak ada satu pun
penumpang di atas perahu yang berusaha membantu nenek itu untuk menyelamatkan
diri. Karena merasa sakit hati, arwah nenek yang telah berubah menjadi setan kaborbor
tersebut mengutuk seluruh penumpang perahu yang tidak mengasihani dirinya dan
malah sibuk menyelamatkan diri mereka sendiri dengan berebut naik di atas
tebing batu. Akibat kutukan nenek tersebut, seluruh penumpang beserta
hasil-hasil laut yang dibawa seketika itu berubah menjadi lukisan yang menempel
di dinding-dinding tebing.
Situs Purbakala Tapurarang yang Dikeramatkan
Sumber Foto: http://forum.detik.com
Sumber Foto: http://forum.detik.com
Warga masyarakat yang mendiami Kabupaten Fak-Fak, khususnya penduduk lokal
di Distrik Kokas, sangat enggan membuka pembicaraan tentang benda-benda kuno
serta peninggalan-peninggalan tua, termasuk memberikan informasi lebih lanjut
hal-ihwal situs purbakala Tapurarang. Mereka tidak berani mengungkapkan kepada
sembarang orang mengenai lukisan relief tapak tangan bercap warna merah darah
itu. Bagi penduduk setempat, mengungkap suatu peninggalan kuno yang telah
dianggap sebagai misteri atau keajaiban sama halnya dengan bunuh diri. Dengan
kata lain, menceritakan atau mengungkap hal yang tabu sama saja memperpendek
usia. Para penutur yang diperkirakan hidup pada saat dibuatnya lukisan telapak
tangan, atau saat kedatangan agama Islam di Kokas, telah tiada. Para penerusnya
pun tidak berani mewariskan cerita sejarah tersebut kepada anak cucu karena
takut mati muda. Mitos seperti inilah yang berlaku secara turun-temurun dari
abad ke abad. Akibatnya, generasi penduduk Kokas sekarang tidak tahu sama
sekali mengenai berbagai peninggalan kuno di Kokas. Inilah misteri yang justru
menjadi nilai tambah bagi pariwisata Distrik Kokas dan Kabupaten Fak-Fak pada umumnya.
Keistimewaan
Distrik Kokas memang menyajikan begitu banyak keistimewaan. Air sungai yang
mengalir jernih, hutan bakau yang masih perawan, pohon-pohon besar yang
rindang, juga ratusan macam burung, dari jenis bangau, kakaktua, nuri, sampai
cenderawasih, masih bebas berterbangan di atas kepala. Belum lagi lautnya
beserta jajaran pulau-pulau karang yang menambah semarak suasana alam Kokas.
Selain menyuguhkan pesona alam serta habitat flora dan fauna yang mengagumkan,
Kokas juga menawarkan jejak-jejak pra sejarah yang bisa dijadikan tempat tujuan
wisata yang tidak kalah menyenangkan.
Keunikan yang menambah nuansa mistis situs purbakala Tapurarang di Kokas
adalah lukisan gambar telapak tangan manusia di dinding tebing yang terbuat
dari bahan-bahan alami dan masih tetap terlihat jelas meski sudah berumur
berabad-abad lamanya. Lukisan-lukisan berwarna merah darah pada dinding tebing
batu karang dengan ketinggian sekitar 20 meter dari permukaan laut itu tidak
hanya menampilkan motif telapak tangan manusia saja, tetapi juga gambar-gambar
lain seperti tulang ikan, bentuk ikan, jari tangan manusia, kecoak,
kalajengking, dan tengkorak manusia. Kuat dugaan bahwa permukaan air laut pada
zaman dahulu sama datar dengan tebing batu karang, sehingga orang dengan mudah
melukis pada dinding tebing. Tetapi, setelah mengalami proses selama ribuan
tahun, air laut menyusut sehingga tebing itu tampak terletak di ketinggian.
Nuansa wisata pra sejarah yang kita peroleh di Kokas tidak hanya berwujud
lukisan darah pada dinding-dinding tebing saja. Di sekitar tempat itu kita juga
dapat menemukan sejumlah tengkorak manusia yang berserakan di sekitar pantai,
tidak jauh dari situs purbakala Tapurarang. Tengkorak-tengkorak manusia itu
dipercaya merupakan kerangka leluhur atau nenek moyang masyarakat Kokas. Pada
zaman dulu, masyarakat Kokas memiliki kebiasaan meletakkan jasad leluhur yang
meninggal di tebing batu, gua, tanjung ataupun di bawah pohon besar yang
dianggap sakral.
Tengkorak dan Kerangka Manusia di Sekitar Situs Tapurarang
Sumber Foto: http://citizenimages.kompas.com
Sumber Foto: http://citizenimages.kompas.com
Situs purbakala berupa lukisan-lukisan berwarna merah darah ternyata tidak
hanya ada di sepanjang Pantai Kokas, tetapi juga kita temukan di pulau-pulau
kecil di sekitarnya. Namun, belum ada satu pun pihak yang pernah meneliti
tentang makna dari semua lukisan relief tersebut. Tidak diketahui pula dari
abad ke berapa lukisan itu dibuat, menggunakan bahan apa, serta siapa yang
membuatnya. Beberapa orang wisatawan asal Belanda yang singgah di Kokas pernah
mengatakan bahwa ukiran-ukiran tersebut menyerupai lukisan relief Suku Aborigin
di Australia. Ada juga versi lain yang menyebutkan, relief itu serupa dengan
sejumlah relief di beberapa museum di Paris, Prancis.
Jika beruntung, ketika air sedang pasang, Anda bisa naik ke tebing dan
menyaksikan lukisan-lukisan bercap darah tersebut dari dekat. Namun, jika air
sedang surut, keindahan lukisan tebing itu hanya bisa dinikmati dari atas
perahu atau longboat. Setelah puas menikmati lukisan di dinding yang
misterius tersebut, Anda bisa melepas penat dengan mengagumi keindahan panorama
laut dan tanjung yang berada tepat di depan goa yang bisa Anda lihat dari salah
satu bukit.
Lokasi
Obyek wisata sejarah situs purbakala Tapurarang berada di Distrik Kokas,
Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat, Indonesia. Jarak antara pusat
pemerintahan Kabupaten Fak-Fak (Kota Fak-Fak) dan Distrik Kokas sekitar 50
kilometer.
Akses
Kendati jarak antara Distrik Kokas dari pusat pemerintahan Kabupaten
Fak-Fak relatif dekat, namun untuk bisa sampai ke Kokas kita harus melalui rute
yang tidak mudah yaitu mesti melewati jalan darat dan jalan air. Jalan darat
untuk menghubungkan Fak-Fak dengan pusat Distrik Kokas sudah dirintis sejak
tahun 1970-an, namun hingga kini belum selesai. Setelah jalan darat ditempuh,
perjalanan harus dilanjutkan dengan perahu untuk bisa sampai di Kokas. Apabila
tertarik dan merasa tertantang untuk mengunjungi situs purbakala Tapurarang di
Kokas, Anda bisa menempuh perjalanan darat dari Kota Fak-Fak menuju Distrik
Kokas dengan waktu selama empat jam.
Dua jam pertama, Anda harus menjalani rute perjalanan dari Kota Fak-Fak
menuju Dermaga Ubadari. Untuk sampai ke Ubadari, Anda dapat menumpang mobil
sewaan, taksi, atau angkutan luar kota. Jika memilih menyewa mobil, Anda harus
mengeluarkan uang sebesar Rp 300.000 untuk pergi-pulang dari Kota Fak-Fak ke
Ubadari dan sebaliknya. Namun apabila memilih menggunakan jasa taksi, Anda
hanya akan dikenai biaya Rp 20.000, juga untuk pergi-pulang. Jika menggunakan
kendaraan umum atau angkutan luar kota, Anda wajib membayar sebesar Rp 25.000
sekali jalan dari Terminal Kota Fak-Fak dengan tujuan Dermaga Ubadari.
Dari Dermaga Ubadari, dua jam perjalanan berikutnya dilanjutkan dengan
menggunakan perahu. Anda bisa naik long boat, umum atau bisa juga
menyewa, untuk menyusuri Sungai Ubadari menuju Kokas. Jika naik longboat yang
digunakan sebagai transportasi umum, Anda cukup membayar Rp 20.000 untuk pergi-pulang.
Akan tetapi, apabila Anda ingin menyewa long boat secara pribadi, Anda
harus membayar lebih mahal, yaitu Rp 200.000 untuk pergi-pulang.
Harga Tiket
Setelah tiba di Distrik Kokas, Anda tidak perlu membayar tiket masuk ke
obyek wisata yang dituju. Namun, sebaiknya Anda menemui pemandu wisata yang
akan mengantar Anda ke lokasi situs purbakala Tapurarang dengan biaya jasa Rp
25.000 sekali jalan.
Akomodasi dan
Fasilitas Lainnya
Tidak banyak fasilitas mewah yang bisa Anda peroleh di Distrik Kokas, namun
setelah berletih ria menikmati wisata sejarah di Kokas, Anda dapat beristirahat
di Kota Fak-Fak yang sudah dilengkapi dengan beberapa hotel, penginapan, juga
pondok wisata. Terdapat belasan hotel di Kota Fak-Fak yang bisa Anda coba untuk
melepas lelah. Selain itu, di Kota Fak-Fak Anda juga bisa menikmati makanan
atau sajian beserta oleh-oleh khas Papua Barat.
Sumber Foto Utama: http://citizenimages.kompas.com.









